Sebuah Essay: Bunuh Diri itu Menular
Bunuh Diri itu Menular
Generasi yang Rentan terhadap Depresi
Adalah Generasi Z.
Depresi adalah salah satu dari permasalahan kesehatan mental. Menurut Wikipedia, Kesehatan mental adalah tingkat kesejahteraan psikologis atau tidak adanya penyakit mental . Ini adalah keadaan seseorang yang "berfungsi pada tingkat penyesuaian emosi dan perilaku yang memuaskan". [1] Dari perspektif psikologi positif atau holisme , kesehatan mental dapat mencakup kemampuan individu untuk menikmati hidup dan menciptakan keseimbangan antara aktivitas hidup dan upaya mencapai ketahanan psikologis.
Menurut WHO, kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stress kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya. Maka dapat dipahami ketika Individu berada diluar definisi tersebut maka dimungkinkan dapat ditemukanya suatu kelainan, kita menyebutnya gangguan jiwa.
Subjudul ini terinspirasi dari sebuah buku yang ditulis oleh Gobind Vashdev yang menulis buku dengan judul yang sama "Bunuh Diri itu Menular". Namun, Penulis dalam bukunya telah mengijinkan siapapun yang menyebar luaskan isi maupun keseluruhan bukunya. Dan tulisan kecil berwarna orange itu mewakili isi dari artikel ini.
Generasi Z adalah generasi yang paling rentan terhadap adanya perubahan karenanya generasi ini rentan terhadap depresi. Perubahan tidak hanya menuntut gaya hidup, namun juga pola pikir. Bagaimana cara mengkritisi zaman, sehingga dapat survive dalam era zaman ini. Banyak artikel-artikel yang membahas permasalahan ini, mulai dari klikdokter, kompasiana, kompas, dan sebagainya. Tentu hal ini bukan hanya HOAX semata, ada dasar penulisannya.
Kata "menular" mungkin sangat identik dengan adanya penyakit. Memang tidak semua yang ditularkan itu buruk, misalkan semangat kedisiplinan sekolah militer, menularkan sikap disiplin. Namun, justru yang akan saya bahas ini cenderung mengarah ke persoalan negatif, yakni bunuh diri. Mungkinkah semua ini menular? Apakah rasional jika suatu permasalahan mental dapat menular?
Dalam buku Tipping Point, Malcolm Gladwell mengambil sampel dari kepulauan Mikronesia, kepulauan di laut Pasifik mengenai bunuh diri pada anak-anak usia 15-20 tahun. Menariknya sebelum 1960, belum pernah ada kasus bunuh diri sebelum sebuah media massa memberitakan kasus pertama bunuh diri yang dilakukan seorang remaja. Kemudian, setelah tahunitu banyak kasus remaja bunuh diri bertebaran.
Kebetulan?? Mungkin saja.... Namun, mungkin tidak juga, tidak bisadibilang hanya kebetulan semata.Kembali ke zaman milenial saat ini. Seorang peneliti dari Universitas Kalifornia bernama David Philips mengungkapkan bahwa media massa menjadi faktor utama penyebab bunuh diri. Banyak remaja yang insecure melihat remaja lain, mengeluh "Mengapa ya, hidup saya seperti ini?" Padahal tanpa disadari, manusia selalu ingin menjadi seperti orang lain, yang ia lihat hanya luarannya saja.
Tanpa disadari dunia melampaui tapal batas. Lalu bagaimana cara mencegah agar kita generasi Z, tidak tertular bunuh diri?
Berikut sebuah tips yang saya kutip dari buku milik Gobind Vashdev;
1. Saringlah informasi yang masuk
Menghindarkan diri kita dari tonotnan atau berita-berita yang marak di televisi adalah langkah yang baik, hal ini bertujuan agar kita tidak terpaku pada maraknya aksi kekerasan yang ada di dunia. Tiap hari ebrita mengabarkan adanya kasus-kasus yang tak luput dari adanya kekerasan. Sehiingga menjauhinya termasuk salah satu cara yang mampu mengurangi dampak pada pikiran kita, bahwa kekerasan itu bukan satu-satunya jalan yang bisa kita pilih dalam bertindak. Masih ada cara lain, jika kita tidak terpaku pada media massa yang sedang marak atau booming.
2. Pilih permainan yang digunakan
Saya rasa generasi Z tak luput dari adanya teknologi, termasuk game. Memilih permainan yang digemari boleh-boleh saja, namun ada baiknya jika emosi kita tidak sedang stabil dan kita tidak bisa berpikir jernih, ada baiknya memilih permainan yang non-kekerasan, namun masih tetap menghibur, seperti game MMROPG, ROPG, dan lainnya.
3. Belajarlah mendengarkan
Banyak masalah yang ditimbulkan akibat kurangnya komunikasi atau masalah yang muncul akrena adanya miskomunikasi. Dua-duanya sama-sama komunikasi. Jadi, komunikasi dapat menghancurkan ataupun menyelamatkan kita. Kita menghabiskan sebagian besar waktu kita untuk menulis, membaca, kita juga berlatih bagaimana berbicara yang baik. Namun, bagaimana dengan mendengarkan?
Jika kita berkomunikasi secara efektif dan mendengar cerita-cerita orang dari sudut pandang yang berbeda, kita tidak hanya kaya akan pengalaman. Tetapi, kita juga kaya akan pandangan. Tidak melirik masalah kehidupan dari 1 sudut pandang saja, tetapi melalui mendengarkan kita dilatih untuk melihat masalah kehidupan dari sisi orang lain dan menyelesaikannya dengan lebih baik lagi dari sebelumnya.
Komentar
Posting Komentar